Pelayanan Puskesmas Monta Dikritisi

KM. Tantonga, - Jum’at malam sekitar pukul 22.30 salah satu pasien asal Desa Baralau hendak melahirkan di puskesmas Monta, kondisi pasien setibanya di ruangan bersalin sudah menghawatirkan (air ketuban pecah disertai cairan berwarna kebiruan-red) sementara perawat jaga juga menunjukkan mimik yang sama sehingga keluarga menyimpulkan bahwa kondisi pasien harus segera ditangani oleh tangan professional yang saat itu belum ada.

Dengan keadaan ini keluarga korban sempat meminta petunjuk perawat jaga untuk rujuk ke RSUD kabupaten Bima sehingga disarankan untuk langsung ke dr. Hj. Wahyuni  Kepala Puskesmas untuk meminta surat rujukan.

Ruslan, S.Pd salah satu keluarga mengecam sikap acuh yang disu-guhkan oleh kepala puskesmas Monta karena disaat ia mewakili keluarga korban yang sedang panik guna meminta rujukan, dokter yang tinggalnya di peru-mahan dokter tidak jauh dari klinik bersalin ter-kesan enggan menemui perwakilan pasien.

Dua tiga kali perawat mondar mandir dianggap tidak ada respon dari dokter, lalu Ruslan men-datangi sendiri rumah dinas guna menyampaikan langsung kondisi pasien. Bukan surat rujukan yang didapat malah bogem mentah dari pembatu ru-mah tangga dokter. “Saya tidak tahu apa kapasi-tasnya di puskesmas ini, Damran yang tinggal dengan ibu dokter tiba-tiba ngamuk dan memukul saya, tidak sampai disitu saya juga dilempar dengan kursi plstik sehingga membuat punggung dan tengkuk saya sakit,” ungkapnya meringis.

“Pelayan publik seharusnya tidak meng-anut asas anti social lebih-lebih premanisme seperti ini, kegaduhan yang ditim-bulkan oleh orang sekitar dokter yang tidak memiliki kapasitas ini justru menja-dikan tempat ini bukan untuk berobat melainkan mencari penyakit,” tudingnya saat menunggu proses persalinan.

Aktivis asal desa Tangga ini juga mengecam sikap kepala puskesmas monta utara tersebut, “Padahal kondisi pasien tidak terlalu menghawatirkan dan buktinya bisa ditangani di sini namun melihat kenyataan tadi kami yang awam dengan ilmu kedokteran merasa cemas lebih-lebih dengan tidak adanya tenaga professional yang mampu memberikan pencerahan pada keluarga lebih-lebih pasien.”

Mengakhiri ketera-ngannya Ruslan menga-takan bahwa insiden tersebut akan dilaporkan ke polisi. “Ada data yang akan saya usut terkait dugaan penyimpangan anggaran tahun 2013 dan SPJ telah ditandatangani oleh dokter Yuni,” ketusnya.

Sementara dr. Hj. Wahyuni kepala PKM dihubungi via selurernya menjelaskan bahwa diri-nya saat itu dalam keadan sakit keras dan tidak bisa keluar, “Kalau-pun saya beranjak dari tempat tidur apalagi harus keluar kena angin dikuatirkan penyakit saya tambah parah, namun demikian saat menerima laporan dari bidan untuk dirujuk maka kami buat rujukannya, kemungkinan ini tidak diketahui oleh ruslan,” terangnya masih dengan suara serak karena sakit.

Diterangkannya insiden itu terjadi akibat aksi kasar yang dibuat oleh keluarga pasien, “Ruslan mengetuk pintu dengan kasar sambil berkata, “Ibu dokter keluar. Ada pasien kenapa tidak diperhatikan,” ung-kapnya mengulang per-kataan Ruslan. “Aksi ini menimbulkan reaksi Damrah yang mengang-gap saya dalam keadaan terancam sehingga ter-jadilah insiden tersebut dan kejadian itu tanpa sepengetahuan saya,” ungkapnya.[Leo] - 03

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru